Rabu, 29 Juni 2011

penutur superior : mitos atau fakta???

Bulan yang lalu saya pernah menghadiri diskusi yang mempertanyakan apakah ada penutur asing yang superior? Menurut para pakar bahasa, seseorang penutur bahasa asing dikatakan mahir berbahasa jika ia telah mencapai kemampuan seperti penutur jati (native speaker). Di dalam kategori ini penutur mahir disebutkan tidak mengalami masalah keakuratan dan kelancaran berbahasa, bahkan di dalam konteks yang belum dikenalnya. Penutur seperti ini mampu menguasai kosakata, keterampilan berkomunikasi, intonasi dan pelafalan yang baik, dan lain-lain.
Ketika saya berdiskusi dengan teman-teman, kami diminta untuk mencari seorang model penutur jati yang dapat dianggap sebagai penutur bahasa Indonesia yang baik dan benar. Waktu itu, Ibu felicia mengatakan calonnya adalah alm.Amran Halim dan Yusril Ihza Mahendra. Dari para model ini, kita bisa meletakkan standar kemahiran berbahasa tertinggi bagi para penutur asing. Maksudnya, kita dapat merancang kurikulum untuk menentukan tingkat mahir kemahiran berbicara dari para model ini.
Pertanyaan saya adalah...apakah ada penutur asing yang dapat menguasai kemahiran berbahasa seperti penutur jati ini? Apalagi jika hanya belajar selama 1.5 tahun di kelas dan(tanpa/sedikit)terpajan (terekspos)oleh lingkungannya secara natural? Saya berpikir agak susah mencapai tingkat mahir yang dimaksud sama dengan penutur jati. Menurut saya, ketika seseorang belajar bahasa asing seharusnya dia memperoleh bahasa bukan hanya terinstruksi di kelas, tetapi juga terpajan dari luar kelas sehingga tercapai keseimbangan di antara keduanya.
Seseorang di Program bahasa seperti BIPA UI tingkat mahir memang belum mencukupi untuk dikatakan mahir seperti penutur jati. Menurut saya, program belajar bahasa seperti BIPA hanya memenuhi sampai mahir berdasarkan kebutuhan nilai, bukan berdasarkan kemahiran berkomunikasi di luar kelas/Indonesia. Selain itu, program ini sebagai langkah awal atau sampai di tengah (belum utuh) pembentukan bahasa mereka terhadap bahasa Indonesia sebelum dapat berkomunikasi dengan baik dan benar (mahir)di luar kelas.
Kalau Anda bertanya kepada saya apakah ada penutur superior bagi penutur asing...saya akan menjawab...ADA, tetapi tidak pernah berhenti di satu titik apalagi jika hanya diukur dengan nilai lembaga suatu program bahasa! Apakah ada penutur superior di BIPA FIB UI?... saya akan menjawab...superior seperti apakah yang Anda maksud????

Rabu, 22 Juni 2011

hanya sebuah pertanyaan

Beberapa minggu yang lalu, seseorang pernah berkata kepada saya tentang takdir. Dia berkata bahwa Allah menentukan garis hidup dan mati seseorang, termasuk rezekinya. Tetapi, dia berkata bahwa Allah tidak menggariskan jodoh seseorang. Dia berkata bahwa masalah pencarian pasangan jiwa digariskan oleh si manusianya sendiri. Saya sempat terdiam karena selama ini saya berpikir berbeda, bahwa lahir, mati, hidup, rezeki, dan jodoh semua di tangan Allah. Mana yang benar? saya tidak tahu dan sampai saat ini masih menjadi pertanyaan untuk saya.

Sabtu, 18 Juni 2011

otak dan hati

Baru saja saya membaca wall seorang teman dan langsung terpicu untuk menulis blog ini.
Seorang teman saya baru saja mengikuti pelatihan tentang pengajaran. Ilmu yang saya dapat dapat dari teman saya ini adalah bahwa sebagai seorang pengajar janganlah selalu mengedepankan kemampuan kognitif pemelajar, tetapi kita juga harus mengarahkan mereka agar memiliki karakter yang baik. Karakter yang baik itu dilandaskan oleh transedensi. Trasedensi bermakna kita harus membentuk karakter mahasiswa untuk mempunyai rasa syukur, berempati kepada orang lain, mampu bekerja sama dengan orang lain, bisa menghargai dan menghormati orang lain, dsb.mungkin sebenarnya hal ini sudah biasa diterapkan di dalam sekolah-sekolah atau program pengajaran lainnya.
Akan tetapi, mengapa saya terpicu untuk menulis hal ini? Sebab, saya menemukan banyak hal berbeda dari pemelajar yang saya ajarkan. Mereka rata-rata adalah orang dewasa yang berotak jauh lebih brilliant daripada saya, tetapi kebanyakan dari mereka memiliki nilai transedensi jauh di bawah normal (menurut saya). pemelajar yang berkebangsaan berbeda biasanya memiliki kepintaran yang baik, tetapi tidak semua memiliki hati yang baik. Bayangkan di dalam satu kelas kami pernah mengajar mahasiswa berkebangsaan Turki, Amerika, Rusia, China, Korea, Jepang... Apa kabar dunia... Amerika dan Rusia, China (bangsa yang selalu direndahkan), Jepang yang merasa bangsa paling berbudaya di Asia,sementara Korea sebagai negara kaya baru yang masih kaget dengan keberhasilan mereka, dan Turki yang berbeda aliran Islamnya dengan Indonesia. Belum lagi pemelajar dari Inggris, Perancis, Belanda, atau lainnya yang berpikir mereka memiliki kebudayaan dan kepintaran paling tinggi... Hampir semua pemelajar memiki sifat tinggi hati, atau mereka merasa "lebih tinggi" dari yang lain ... Hal seperti ini yang kadang-kadang saya rasakan atau saya mengalami benturan budaya (cultural shock) yang sangat tajam. Menghadapi mereka membuat saya seperti menaiki roller coaster, kadang naik, kadang turun, ingin teriak sekerasnya, tetapi menyenangkan. Dengan pengalaman mengajar selama 7 tahun, saya masih harus banyak belajar menghadapi perbedaan perilaku dan perbuatan mereka. Saya berharap semoga kelak HATI yang mereka miliki dipergunakan dan dijaga dengan baik. Sebab, Allah tidak menciptakan manusia dengan otak tanpa hati, atau hati tanpa otak!

Selasa, 14 Juni 2011

pemelajar atau pembelajar???

Pemelajar atau pembelajar....yaaa hhooaaammm...zzzz. Pertanyaaan itu lagi yang ditanyakan orang-orang kepada saya. Sebenarnya saya agak alergi menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan terjemahan kata, tetapi apa boleh buat karena saya mempelajari bahasa Indonesia. Kalau dihitung-hitung, Anda mungkin orang yang ke-100 sekian yang bertanya kepada saya. Baiklah saya coba menjawabnya dengan singkat dan jelas...(mungkin)
1. Waktu saya belajar di S1, saya memahami bahwa afiks pe- dipakai sebagai pembentuk nomina. Afiks pe- pada umumnya memiliki makna orang yang me- atau orang yang ber-. Seperti pada contoh penulis (orang yang menulis), penari (orang yang menari), pelajar (orang yang belajar), pejalan kaki (orang yang berjalan kaki), dan lain-lain.
2. Selain itu, afiks pe- juga menyatakan makna orang yang suka, seperti perokok (orang suka merokok), orang yang suka mabuk (pemabuk). Ada juga yang bermakna orang yang bersifat, seperti penakut (orang yang bersifat takut), pemarah (orang yang suka marah), dan lain-lain.
3. Afiks pe- juga bermakna alat untuk me-, seperti penghapus (alat untuk menghapus),penggaris, pendingin udara, dll. Namun, kadang-kadang kata AC lebih populer daripada pendingin udara karena lebih mudah aja pengucapannya.(prinsip ekonomis bahasa).
Secara umum, pemahaman pe- seperti itu. Namun, bagaimana dengan pemelajar dan pembelajar? Menurut KBBI, pembelajar adalah orang yang belajar. Hampir semua orang biasanya menggunakan kata pembelajar untuk menunjukkan orang yang belajar (dibedakan dengan pelajar yang bermakna orang yang belajar di SD--SMA). Setiap kesempatan seminar yang saya ikuti, penggunaan kata pembelajar dipakai untuk menyatakan orang yang untuk belajar. Namun, hal ini sedikit berbeda dengan yang saya pelajari di kuliah S2 saya. Seorang dosen menjelaskan bahwa pembelajar bermakna orang yang membelajarkan = guru (bingung???? sama!!!)
Sementara itu, Beliau mengatakan bahwa untuk menyatakan orang yang belajar bahasa Indonesia adalah pemelajar bahasa Indonesia(dari makna orang yang mempelajari bahasa Indonesia). Heeeee.....
Oke, semua saya terima dengan ikhlas. Namun, ketika saya sidang dan dihadapkan oleh dua penguji berbeda aliran (di UI banyak aliran yang dianut dosen-dosen), kata pemelajar dipertanyakan lagi. Saya hanya menjawab bahwa saya hanya mendapat apa yang saya terima di kuliah. Jadi intinya, saya terjebak di antara dua aliran yang berbeda. Jadi, saya maju saja dengan tetap memakai kata pemelajar.
Setelah berada di luar kuliah, kalau seseorang bertanya kepada saya mana kata yang benar pembelajar atau pemelajar. Saya akan menjawab terserah Anda ingin memakai yang mana, bergantung pada kesepakatan. Karena kedua bentuk itu dapat dipakai, kita hanya melihat bagaimana kedua kata tersebut dapat bersaing satu sama lain. Seperti pada kata kelautan dan perlautan, atau pada nomina lainnya yang berubah-ubah setiap saat bergantung pada pemakaiannya di luar. Saya jadi ingat perkataan bapak Umar Muslim, Ph.D, Jangan mengkakukan bahasa, biarkanlah bahasa itu dinamis dan mengalir apa adanya agar dia tidak mati....